Menjelang akhir April 2026, saya mendapatkan sebuah kehormatan yang tidak akan pernah saya lupakan. Perjalanan kali ini membawa saya jauh ke utara Pulau Dewata, tepatnya ke SLBN 1 Buleleng di Singaraja. Kami hadir membawa sebuah misi besar bertajuk “Games for Inclusion”, sebuah kolaborasi luar biasa untuk menghadirkan inklusivitas di dunia teknologi.
Program ini bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan upaya nyata untuk memberikan up-skilling teknologi kepada teman-teman disabilitas pendengaran (tunarungu). Inisiatif ini terwujud berkat kolaborasi erat dan dukungan penuh dari Agate Academy, Alkademi Foundation, Telkom Indonesia, Axioo, serta bantuan dari teman-teman Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha). Bersama-sama, kami ingin membuktikan bahwa batasan fisik bukanlah penghalang untuk menguasai teknologi masa depan.

Menembus Batas Komunikasi
Ini adalah pengalaman pertama saya mengajar di lingkungan Sekolah Luar Biasa (SLB). Jujur, ada rasa gugup di awal—bagaimana saya bisa menyampaikan logika pemrograman yang rumit kepada teman-teman tunarungu? Namun, kegugupan itu sirna begitu melihat senyum ramah para siswa dan dedikasi luar biasa dari para guru SLBN 1 Buleleng. Para guru ini menjadi jembatan komunikasi yang sangat sabar, menerjemahkan setiap penjelasan teknis ke dalam bahasa isyarat yang dinamis.

Dua Hari Penuh Inspirasi
Kegiatan berlangsung selama dua hari yang sangat intens. Pada hari pertama, Kak Karina Dewanti Shafwan membuka cakrawala para siswa dengan materi industri game. Beliau memaparkan bagaimana sebuah hobi bisa menjadi profesi, dan bagaimana industri kreatif global sangat terbuka bagi siapa saja yang memiliki keahlian.
Di hari kedua, giliran saya yang masuk ke ranah teknis. Fokus utama kami adalah merancang game arcade menggunakan MakeCode Arcade. Saya mengajak para siswa untuk tidak hanya menjadi pemain, tetapi menjadi kreator. Kami menyusun logika blok demi blok: mengatur pergerakan karakter, menciptakan rintangan, hingga menentukan skor.

Tak berhenti di sana, saya juga memperkenalkan dasar-dasar AI Prompting. Saya ingin mereka tahu bahwa kecerdasan buatan (AI) bisa menjadi “asisten pribadi” yang membantu mereka dalam proses kreatif, mulai dari mencari ide hingga memecahkan masalah logika.

Momen “Aha!” yang Emosional
Puncak kebahagiaan saya adalah saat melihat wajah-wajah serius itu berubah menjadi tawa dan decak kagum. Ada momen “Aha!” ketika game yang mereka susun logikanya akhirnya bisa dijalankan dan dimainkan. Melihat mereka bangga menunjukkan hasil karyanya kepada teman sebangku benar-benar menyentuh hati. Literasi digital bukan hanya tentang kode, tapi tentang memberikan rasa percaya diri bahwa mereka mampu bersaing di era digital.

Teknologi untuk Semua
Program ini mempertegas keyakinan saya: teknologi adalah alat pemberdayaan yang universal. Jika kita mampu memberikan akses dan pendekatan yang tepat, inklusivitas dalam industri teknologi bukan lagi sekadar impian, melainkan realitas yang bisa kita wujudkan bersama.


Terima kasih yang mendalam untuk tim Agate Academy, terutama Kak Restya Winda Astari dan Kak Nadia Ukhti, yang telah mendampingi, mengawal, dan berkolaborasi erat dalam seluruh rangkaian kegiatan dari Bandung hingga Singaraja. Dedikasi kalian adalah kunci keberhasilan program ini. Kolaborasi ini memberikan pelajaran berharga bagi saya bahwa setiap individu memiliki potensi luar biasa, selama kita bersedia membukakan pintunya. Games for Inclusion is a gateway to a world where everyone belongs.