Setiap perjalanan karir selalu memiliki titik belok yang menentukan. Bagi saya, titik itu bermula di awal tahun 2024. Setelah menyelesaikan rangkaian bootcamp intensif di Alkademi, sebuah kepercayaan besar tiba tanpa diduga: saya diminta mengemban tanggung jawab sebagai Project Manager (PM) di Alkademi. Kepercayaan ini lahir setelah manajemen melihat gaya kepemimpinan, inisiatif komunikasi, serta kemampuan mengurai masalah yang saya tunjukkan selama masa pelatihan.
Melangkah dari seorang peserta bootcamp menjadi nakhoda proyek tentu bukan lompatan kecil. Namun, justru di fase perjalanan inilah fondasi kepemimpinan, manajemen proyek, dan kedalaman rekayasa teknologi saya ditempa secara nyata di garis depan.
Bertumbuh Tanpa Senior PM
Kondisi awal saat saya mulai menjabat sebagai Project Manager menghadirkan tantangan unik: di Alkademi saat itu tidak ada Senior PM. Tidak ada jalur perantara atau figur senior di bidang manajemen proyek untuk tempat bertanya sehari-hari.
Namun, keterbatasan tersebut justru berubah menjadi berkah akselerasi belajar yang luar biasa. Saya berkesempatan dibimbing dan di-mentori secara langsung oleh Mas Alfan selaku Chief Technology Officer (CTO) Alkademi.
Endjiansyah memimpin sesi koordinasi tim pengembang di Alkademi, mengedepankan komunikasi terbuka dan penyelarasan teknis.
Belajar langsung dari pucuk pimpinan teknologi memberikan perspektif helikopter yang sangat komprehensif:
- Menjembatani Bahasa Bisnis dan Arsitektur Teknis: Memahami bagaimana menerjemahkan visi produk dari klien dan mitra ke dalam backlog teknis yang jelas bagi tim developer.
- Manajemen Ritme & Sprint Developer: Mengawal kapasitas tim agar tetap produktif tanpa mengorbankan kualitas kode (code health).
- Mitigasi Risiko & Problem Solving Cepat: Menghadapi dinamika tak terduga dalam deployment maupun integrasi sistem dengan kepala dingin dan solusi terukur.
Meja Bundar: Seluruh Tim Developer Alkademi 2024
Salah satu memori paling berkesan dalam keseharian sebagai PM adalah sesi-sesi diskusi di meja bundar kantor Alkademi. Di meja inilah seluruh tim developer Alkademi tahun 2024 berkumpul membuka laptop masing-masing untuk daily standup, sprint review, hingga brainstorming arsitektur solusi.
Formasi tim di meja bundar saat itu memiliki dinamika yang sangat istimewa:
- Dua sosok senior developer: Mentor kami saat menjalani bootcamp di tahun sebelumnya yang turut membimbing fondasi teknis kami.
- Adnan, Farid, Hanif, Maahir, dan Rijal: Rekan-rekan junior mereka yang juga merupakan sahabat seperjuangan saya sejak masa bootcamp Far Capital.
Momen kebersamaan seluruh tim developer Alkademi tahun 2024 di meja bundar bersama para senior developer, Adnan, Farid, Hanif, Maahir, dan Rijal.
Sebagai PM yang tumbuh dari almamater bootcamp yang sama, komunikasi di antara kami berjalan sangat cair namun tetap profesional. Meja bundar ini menjadi saksi lahirnya berbagai solusi atas kebuntuan teknis hingga perayaan modul-modul yang berhasil dirilis ke tahap produksi.
Uniknya, meja bundar itu tidak selalu berupa meja fisik. Saat berlangsungnya Jabar Digital Academy 2024, seluruh tim developer tersebar di lokasi yang berbeda-beda: sebagian di Cianjur, saya di Cikole (Lembang), dan sebagian lagi tetap di kantor Alkademi Bandung. Meski terpencar-pencar karena menjalankan kegiatan mentoring lintas area secara bersamaan, daily standup dan siklus pengembangan tetap berjalan lancar tanpa hambatan—bukti nyata bahwa ritme kolaborasi tim sudah sangat matang dan tidak tergantung pada kedekatan fisik semata.
Daily standup virtual tim developer Alkademi di tengah kegiatan Jabar Digital Academy 2024—development tetap berjalan meskipun tim tersebar di Cianjur, Cikole (Lembang), dan kantor Alkademi Bandung.
Dinamika tim tentu juga melewati fase pasang surut dan perpisahan. Seiring berjalannya waktu, dua sosok senior developer kami beserta Rijal memutuskan untuk melangkah ke babak karir berikutnya. Kepergian ini membawa dinamika baru: tim pengembang tidak lagi memiliki figur senior developer internal di dalam tim.
Momen perpisahan hangat bersama salah seorang senior developer menjadi pengingat berharga bahwa di balik baris-baris kode dan tenggat waktu proyek, selalu ada ikatan persaudaraan profesional yang erat.
Endjiansyah bersama salah seorang senior developer pada momen perpisahan hangat di Alkademi.
Menjalankan Mandat TPM: Paham Teknis, Tuntas Eksekusi
Peran yang saya jalani terasa sangat identik dengan Technical Project Manager (TPM): memiliki pemahaman mendalam tentang arsitektur perangkat lunak, namun tetap menjalankan seluruh tanggung jawab manajerial selayaknya seorang PM profesional. Mulai dari penyusunan timeline, mitigasi risiko, orkestrasi sumber daya, hingga menjembatani komunikasi ke pemangku kepentingan (stakeholders) tingkat tinggi.
Jika melihat berbagai cerita yang tertulis di portofolio ini—mulai dari inisiatif digital bersama ASEAN Foundation, proyek sistem Posyandu dan Bansos AWS in Communities di Karawang, piloting literasi AI Minecraft Education yang ditinjau Wapres Gibran, pelatihan guru Microsoft Elevate, hingga gelaran Lailatul Coding—semuanya digerakkan oleh kombinasi kepemimpinan teknis dan manajemen proyek yang solid.
Endjiansyah saat mengikuti event The 6th West Java Investment Summit (WJIS) 2024, di mana dokumentasi dan dampak program teknologi ditampilkan di panggung utama.
Salah satu momen berharga dalam representasi proyek ini adalah ketika berkesempatan mengikuti event The 6th West Java Investment Summit (WJIS) 2024 bersama CTO Mas Alfan. Di forum investasi dan pembangunan daerah bergengsi ini, dokumentasi dan hasil implementasi teknologi kami ditampilkan di panggung utama, sekaligus dirayakan melalui instalasi interaktif digital yang memuat aspirasi dan karya insan teknologi Jawa Barat.
Mas Alfan (CTO Alkademi) di hadapan instalasi interaktif The 6th West Java Investment Summit (WJIS) 2024—momen menghadiri summit bersama Endjiansyah di mana karya dan aspirasi teknologi Alkademi dipamerkan.
Dinamika Februari 2026: Estafet Peran dan Penguatan Lini Rekayasa
Waktu bergulir cepat, dan memasuki awal tahun 2026, Alkademi telah bertransformasi dan berkembang dengan sangat pesat. Struktur organisasi kian matang dengan bertambahnya talenta-talenta di divisi manajemen proyek.
Seiring perkembangan tersebut, tongkat estafet tanggung jawab Project Manager saya serahkan kepada Mas Hanif Fajri, yang kini mengawal kelancaran operasional dan eksekusi proyek-proyek di Alkademi.
Di sisi lain, setelah kepergian para senior developer dan Rijal, lini rekayasa perangkat lunak Alkademi kini bertumpu pada empat developer inti: Adnan, Farid, Hanif, dan Maahir—tanpa adanya senior developer di dalam tim. Pada saat yang sama, terjadi lonjakan kebutuhan strategis pada lini pengembangan modul-modul materi pembelajaran (curriculum & technical module development) serta akselerasi produk software yang membutuhkan pemahaman teknis mendalam.
Mengingat sebagian besar rekan PM lainnya berlatar belakang non-teknis dan tim dev membutuhkan penguatan arah arsitektur, keputusan untuk menggeser peran saya kembali ke lini Software Engineering menjadi langkah yang sangat tepat dan berdampak. Bekal kepemimpinan teknis yang ditempa langsung oleh CTO Mas Alfan selama dua tahun menjadi modal berharga untuk mendampingi rekan-rekan developer dari dalam, merancang modul teknologi mutakhir, serta menjaga kualitas sistem Alkademi ke depan. Menariknya, kolaborasi dengan Mas Hanif Fajri tetap terjalin sangat erat; untuk berbagai diskusi dan keputusan yang menyangkut aspek teknikal (technical advisory), kami senantiasa duduk bersama menyelaraskan solusinya.
Perjalanan ini membuktikan bahwa peran profesional dalam dunia teknologi bersifat dinamis dan adaptif. Baik saat memegang kemudi sebagai Technical Project Manager maupun saat kembali menyusun arsitektur sistem sebagai Software Engineer, komitmen saya tetap satu: memberikan kontribusi terbaik di mana pun kehadiran saya paling dibutuhkan.